Siapa yang tidak kenal kemacetan Sunset Road di jam pulang kerja? Atau tanjakan panjang menuju Bedugul yang bikin mesin konvensional kerja keras? Bagi pengguna mobil biasa, kondisi ini memang melelahkan sekaligus boros bensin.
Tapi kalau Anda sedang mempertimbangkan atau sudah mengendarai mobil listrik (EV), ada kabar yang cukup menggembirakan: kondisi jalanan Bali yang sering macet dan berbukit itu justru salah satu yang paling ideal di Indonesia untuk memaksimalkan efisiensi EV. Kuncinya ada pada satu fitur yang hampir semua mobil listrik punya, namun ironisnya masih banyak pengguna yang belum benar-benar memahaminya: Regenerative Braking.
Apa Itu Regenerative Braking?
Bayangkan Anda sedang bersepeda menuruni Jalan Raya Puputan di Renon. Saat Anda berhenti mengayuh, roda sepeda masih berputar dan menghasilkan energi energi itu biasanya terbuang begitu saja sebagai panas akibat gesekan rem.
Regenerative braking bekerja dengan cara menangkap energi yang “terbuang” itu dan menggunakannya kembali untuk mengisi baterai EV Anda. Saat Anda mengangkat kaki dari pedal gas atau menekan rem di mobil listrik, motor listrik yang biasanya mendorong roda akan “berbalik peran” ia berubah menjadi generator yang mengubah energi gerak menjadi energi listrik dan menyimpannya kembali ke baterai.
Simpelnya: setiap kali Anda melambat, Anda sedang menabung listrik.
Ini berbeda total dengan mobil bensin atau diesel yang membuang energi pengereman begitu saja menjadi panas.
Kenapa Kondisi Bali Sangat Ideal untuk Regenerative Braking?
1. Lalu Lintas Stop-and-Go di Kawasan Selatan Bali
Pernah terjebak di kawasan Kuta jam 5 sore, atau merangkak pelan di Jalan Raya Seminyak saat akhir pekan? Kondisi stop-and-go seperti ini memang menguras kesabaran, tapi bagi EV Anda, ini adalah ladang pengisian energi yang berjalan otomatis.
Setiap kali Anda mengangkat kaki dari pedal gas karena kendaraan di depan melambat, sistem regenerative braking langsung bekerja. Setiap kali Anda mengerem pelan di lampu merah Jalan Bypass Ngurah Rai, baterai Anda menyerap sedikit demi sedikit energi itu kembali.
Berbeda dengan perjalanan di jalan tol yang mulus di mana Anda jarang mengerem sehingga regen nyaris tidak bekerja, kemacetan kota Bali justru menjadi “sesi pengisian daya” yang berjalan tanpa Anda sadari sepanjang perjalanan.
2. Jalur Menurun di Ubud, Kintamani, dan Bedugul
Ini yang paling menarik. Bayangkan Anda baru saja menikmati pemandangan kawah Batur di Kintamani, lalu mulai perjalanan turun menuju Gianyar atau Ubud. Jalan yang panjang dan menurun tajam itu adalah momen emas untuk regenerative braking.
Alih-alih menginjak rem dan membuang energi sebagai panas (yang dalam jangka panjang juga menyebabkan brake fade atau rem yang “lelah”), Anda cukup mengatur level regen braking dan biarkan mobil mengisi daya baterai selama perjalanan turun.
Turun dari Bedugul ke Mengwi? Setiap meter penurunan ketinggian itu bisa dikonversi menjadi energi listrik yang tersimpan di baterai.
3. Tanjakan Pendek dan Turunan Berganti-ganti di Wilayah Tengah Bali
Jalanan Bali, terutama di kawasan tengah seperti Tegallalang, Sidemen, atau Payangan, penuh dengan tanjakan dan turunan yang berganti-ganti dalam jarak pendek. Ini berarti ada peluang pemulihan energi yang berulang dalam satu perjalanan.
Bagi EV, topografi berbukit seperti ini jauh lebih menguntungkan dibanding jalan tol datar yang membuat Anda melaju konstan tanpa satu pun kesempatan regen.
Tips Praktis: Cara Memaksimalkan Regenerative Braking di Bali
Tips 1: Kenali dan Sesuaikan Pengaturan Regen di Mobil Anda
Sebagian besar EV modern termasuk lini VinFast menyediakan pilihan kekuatan regenerative braking yang bisa disesuaikan, biasanya melalui layar infotainment, tombol di konsol tengah, atau paddle shifter di belakang setir.
Konsep yang perlu dipahami: semakin kuat pengaturan regen, semakin besar energi yang dipulihkan saat melambat, dan semakin terasa “tarikan” perlambatan saat kaki diangkat dari gas.
Yang sama pentingnya adalah tahu kapan harus menyesuaikan levelnya:
- Di kemacetan kota (Kuta, Seminyak, Bypass Ngurah Rai): gunakan regen sedang hingga tinggi untuk memaksimalkan pemulihan energi di setiap pengereman.
- Di jalan relatif lancar (Bypass Ida Bagus Mantra menuju Gianyar): turunkan ke level rendah hingga sedang. Regen terlalu kuat di jalan lancar terasa seperti ada yang “menarik” setiap kali Anda angkat gas, dan justru mengurangi kenyamanan berkendara.
- Di turunan panjang (Kintamani ke Gianyar, Bedugul ke Mengwi): setel ke tinggi dan biarkan mobil mengisi baterai sambil Anda menikmati pemandangan.
Pelajari buku manual kendaraan Anda untuk mengetahui cara mengakses pengaturan ini, lalu mulai bereksperimen sesuai kondisi jalan yang Anda hadapi.
Tips 2: Kuasai One-Pedal Driving untuk Kemacetan Kota
One-pedal driving adalah teknik di mana Anda hampir tidak perlu menyentuh pedal rem dalam kondisi normal cukup atur gas, dan regen braking yang mengurus perlambatan secara otomatis.
Satu hal yang perlu diketahui: lampu rem tetap menyala saat regen braking bekerja secara signifikan di hampir semua EV. Pengemudi di belakang Anda tetap mendapat peringatan visual bahwa kendaraan sedang melambat.
Begitu terbiasa, berkendara di jalanan Bali yang padat akan terasa jauh lebih efisien dan lebih santai karena Anda tidak terus-menerus berpindah antara pedal gas dan rem.
Tips 3: Gunakan Mode Berkendara yang Tepat
Kebanyakan EV juga dilengkapi driving mode (biasanya Eco, Normal, Sport) yang turut memengaruhi seberapa aktif regen braking bekerja, meski implementasinya berbeda-beda per merek.

Sebagai panduan umum:
- Mode Eco cenderung membuat regen lebih aktif sekaligus membatasi konsumsi daya secara keseluruhan pilihan paling hemat untuk kemacetan harian.
- Mode Sport memprioritaskan respons akselerasi, sehingga karakter regen bisa terasa berbeda dan konsumsi daya secara keseluruhan lebih tinggi.
Untuk perjalanan sehari-hari di kota Bali, mode Eco adalah titik awal yang paling disarankan.
Apakah Sering Menggunakan Regen Braking akan Merusak Baterai?
Ini pertanyaan yang sering muncul, dan jawabannya: tidak perlu khawatir berlebihan.
Sistem manajemen baterai di VinFast mengontrol daya yang masuk secara ketat mempertimbangkan suhu, status pengisian, dan kesehatan sel baterai. Tingkat daya dari regen braking jauh lebih rendah dibanding pengisian cepat DC, sehingga dampaknya terhadap umur baterai sangat minimal.
Bahkan sebaliknya: gaya mengemudi yang lebih halus berkat one-pedal driving cenderung mengurangi akselerasi penuh yang tiba-tiba, dan itu justru positif untuk kesehatan baterai jangka panjang.
Baca juga: Tips Merawat Baterai Mobil Listrik
Bali Macet? EV Anda Justru Berterima Kasih
Ada ironi yang menarik di sini: kondisi jalanan Bali yang kerap dianggap sebagai “neraka berkendara” macet berjam-jam, tanjakan curam, jalur sempit justru adalah lingkungan yang paling ideal untuk teknologi regenerative braking bekerja secara maksimal.
Berbeda dengan pengguna mobil bensin yang makin frustrasi saat macet karena bensin terbakar percuma, pengguna EV yang memahami cara kerja regen braking bisa mengubah setiap pengereman menjadi energi, dan setiap turunan menjadi sesi pengisian baterai.
Ini bukan sekadar teori ini adalah keunggulan nyata yang bisa Anda rasakan sendiri di balik kemudi.
Ingin merasakan langsung perbedaannya? Kunjungi VinFast Bali untuk sesi test drive dan lihat sendiri bagaimana teknologi regenerative braking bekerja di jalanan Bali yang sesungguhnya.










